MEKANISME LEPASNYA PLASENTA
Total Tayangan Halaman
Sabtu, 21 September 2013
Uji Laboratorium
Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula
(karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan
beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa.
Nama Benedict merupakan nama seorang ahli kimia asal Amerika, Stanley Rossiter Benedict (17 Maret 1884-21 Desember 1936). Benedict lahir di Cincinnati dan studi di University of Cincinnati. Setahun kemudian dia pergi ke Yale University untuk mendalami Physiology dan metabolisme di Department of Physiological Chemistry.
Nama Benedict merupakan nama seorang ahli kimia asal Amerika, Stanley Rossiter Benedict (17 Maret 1884-21 Desember 1936). Benedict lahir di Cincinnati dan studi di University of Cincinnati. Setahun kemudian dia pergi ke Yale University untuk mendalami Physiology dan metabolisme di Department of Physiological Chemistry.
Pada uji Benedict, pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus
aldehid, kecuali aldehid dalam gugus aromatik, dan alpha hidroksi keton. Oleh
karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi, namun karena memiliki
gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan
mannosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif dengan pereaksi
benedict.
Satu liter pereaksi Benedict dapat dibuat dengan menimbang sebanyak 100 gram sodium carbonate anhydrous, 173 gram sodium citrate, dan 17.3 gram copper (II) sulphate pentahydrate, kemudian dilarutkan dengan akuadest sebanyak 1 liter.
Satu liter pereaksi Benedict dapat dibuat dengan menimbang sebanyak 100 gram sodium carbonate anhydrous, 173 gram sodium citrate, dan 17.3 gram copper (II) sulphate pentahydrate, kemudian dilarutkan dengan akuadest sebanyak 1 liter.
Untuk mengetahui adanya monosakarida dan disakarida pereduksi dalam makanan, sample makanan dilarutkan dalam air, dan ditambahkan sedikit pereaksi benedict. Dipanaskan dalam waterbath selamaa 4-10 menit. Selama proses ini larutan akan berubah warna menjadi biru (tanpa adanya glukosa), hijau, kuning, orange, merah dan merah bata atau coklat (kandungan glukosa tinggi).
Sukrosa (gula pasir) tidak terdeteksi oleh pereaksi Benedict. Sukrosa mengandung dua monosakrida (fruktosa dan glukosa) yang terikat melalui ikatan glikosidic sedemikian rupa sehingga tidak mengandung gugus aldehid bebas dan alpha hidroksi keton. Sukrosa juga tidak bersifat pereduksi.
Uji Benedict dapat dilakukan pada urine untuk mengetahui kandungan glukosa. Urine yang mengandung glukosa dapat menjadi tanda adanya penyakit diabetes. Sekali urine diketahui mengandung gula pereduksi, test lebih jauh mesti dilakukan untuk memastikan jenis gula pereduksi apa yang terdapat dalam urine. Hanya glukosa yang mengindikasikan penyakit diabetes.
KTI Faktor faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan program Jampersal
POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENKES TANJUNGKARANG
PROGRAM STUDI
KEBIDANAN METRO
Jumat, 20 September 2013
Album
Latihan Dasar Kepemimpinan HMPS Kebidanan Poltekkes 2011
Bandar Lampung 2012
PKMD Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang 2012
Desa Bawang, Punduh Pedada, Pesawaran
Seminar Kesehatan Sari Husada 2013
Emersia Hotel, Bandar Lampung
PKK III Ruang Kebidanan RSU A Yani Metro 2012
Belajar Up Implan di PKM Margototo 2012
bersama Okta Rostalia, Eka Yustina dan Bidan Titin
Penyuluhan Kader Posyandu Desa Jayaasri
Lampung Timur 2012
Lampung Timur 2012
Mahasiswa Prodi Kebidanan Metro 2009
Kenangan sebelum beranjak PKK 3
Asuhan Kebidanan
TUGAS
ASKEB V
PERDARAHAN
ANTEPARTUM
RUPTUR
SINUS MARGINALIS
DISUSUN
OLEH :
OKTA
ROSTALIA
09242026
POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN TANJUNG KARANG
PRODI
KEBIDANAN METRO
2011
Perdarahan
Antepartum
Perdarahan antepartum
adalah perdarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Biasanya lebih
banyak dan lebih berbahaya daripada perdarahan kehamilan sebelum 28 minggu
(Mochtar, R, 1998).
Perdarahan antepartum
dapat disebabkan oleh plasenta previa, solusio plasenta, ruptura sinus
marginalis, atau vasa previa. Yang paling banyak menurut data RSCM jakarta tahun 1971-1975
adalah solusio plasenta dan plasenta previa. Diagnosa secara tepat sangat
membantu menyelamatkan nyawa ibu dan janin.
Ruptur
Sinus Marginalis
Darah ibu yang berada
diruang intraviller dari spiral alteries yang berada di desidua basalis. Pada
systole darah disemprotkan dengan tekanan 70-80mmhg, seperti air mancur kedalam
ruangan intraviller sampai mencapai chorlonic plate, pangkal dari kotiledon-
kotiledon janin.
Darah tersebut membasahi
semua vili korialis dan kembali terdapat vena yang luas untuk menampung darah
kembali. Pada pinggir plasenta dibeberapa tempat terdapat pula suatu ruangan
vena yang luas untuk menampung darah yang berasal dari ruang intraler diatas.
Ruangan ini disebut sinus marginalis.
Selama perkembangan
amnion dan korion melipat kebelakang disekeliling tepi-tepi plasenta. Dengan
demikian korion ini masih berkesinambungan dengan tepi plasenta tapi
pelekatannya melipat kebelakang pada permukaan foetal.
Pada permukaan foetal
dekat pada pinggir plasenta terdapat cincin putih. Cincin putih ini menandakan
pinggir plasenta, sedangkan jaringan disebelah luarnya terdiri dari vili yang
timbul ke samping, dibawah desidua. Sebagai akibatnya pinggir plasenta mudah
terlepas dari dinding uterus dan perdarahan ini menyebabkan perdarahan
antepartum. Hal ini tidak dapat diketahui sebelum plasenta diperiksa pada akhir
kehamilan.
Sehingga rupture
sinus marginalis merupakan robekan pada pinggir plasenta ditempat- tempat
tertentu disuatu ruangan vena yang luas/ lebar untuk menampung darah.
Pecahnya sinus marginalis merupakan perdarahan
yang sebagian besar baru diketahui setelah persalinan. Biasanya tanpa rasa
sakit. Perdarahan terjadi bila ketuban pecah oleh karma itu, bila pembukaan
telah lengkap maka bahaya untuk janin tidak terlalu besar, tapi dapat
membahayakan bagi ibu.
Daftar
Pustaka
Varney, Helen. 1997.
Varney’s Midwifey. Massachussets : Jones and
Cunningham, F Gary at all. 2001. William obstetric 21th edition.
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta
: EGC
Syaifudin, 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal, Jakarta ,
YBPSP (BU 1)
Langganan:
Postingan (Atom)




