Total Tayangan Halaman

Rabu, 25 Desember 2013

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR NORMAL 




A.         Latar Belakang
 Berdasarkan penelitian WHO di seluruh dunia terdapat kematian ibu sebesar 500.000 jiwa pertahun dan kematian bayi pada khususnya neonatus sebesar 10 juta jiwa pertahun. Kematian maternal dan bayi tersebut terjadi terutama di negara berkembang sebesar 99% (Manuaba, 1998).
Seperti yang terjadi di hampir semua negara di dunia, kesehatan bayi cenderung kurang mendapat perhatian di bandingkan umur-umur lainnya. Padahal data WHO (2002) menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan, yang dikenal dengan “fenomena 2/3”, yaitu 2/3 kematian bayi (umur 0-1 tahun) terjadi pada masa neonatal (bayi baru lahir umur 0-28 hari), 2/3 kematian pada masa neonatal dini terjadi pada hari pertama. Maka 1 minggu pertama dari kelahiran adalah masa paling kritis bagi seorang bayi (Komalasari, 2007).
Menurut Agus Hamonangan , Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tertinggi di bandingkan Negara-negara tetangga. Di Malaysia 10 per 1000 kelahiran hidup, Thailand 20 per 1000 kelahiran hidup, Vietnam 18 per 1000 kelahiran hidup, Brunai Darusalam 8 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan Indonesia sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup (Azrul, 2005).

Rabu, 18 Desember 2013

KOMPLIKASI DAN PENYAKIT DALAM MASA NIFAS SERTA PENANGANANNYA
(SERVIKSITIS, ENDOMETRISIS, ENDOMETRIOSIS, MYOMETRITIS)



PENDAHULUAN
Pengertian Nifas
a.       Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar enam minggu (Fairer, Helen, 2001:225)
b.       Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira enam minggu (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Ne’bnatal, 2001:122)
KOMPLIKASI DAN PENYAKIT DALAM MASA NIFAS SERTA PENANGANANNYA
(SERVIKSITIS, ENDOMETRISIS, ENDOMETRIOSIS, MYOMETRITIS)



PENDAHULUAN
Pengertian Nifas
a.       Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar enam minggu (Fairer, Helen, 2001:225)
b.       Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira enam minggu (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Ne’bnatal, 2001:122)

Rabu, 04 Desember 2013


KEHAMILAN


   Kehamilan Normal
Kehamilan adalah suatu keadaan dimana terjadi pembuahan ovum oleh spermatozoa yang kemudian mengalami nidasi pada uterus dan berkembang sampai lahir, dimana lamanya hamil normal 37 – 42 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir.
Proses terjadinya kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan terdiri dari :
a.       Ovulasi pelepasan ovum
b.       Terjadi migrasi spermatozoa dan ovum
c.       Terjadi konsepsi dan pertumbuhan zigot
d.       Terjadi nidasi (implantasi) pada uterus
e.       Pembentukan plasenta
f.        Tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm

2.2   Perubahan - perubahan yang terjadi pada ibu hamil :
1.    Uterus
Bertambah besar dari yang beratnya 30 gr menjadi 1000 gr dengan ukuran panjang 32 cm, lebar 24 cm dan ukuran muka belakang 22 cm.
Hyperemisis Gravidarum


1.1Latar Belakang

Kehamilan merupakan suatu proses fisiologis yang terjadi pada wanita di mana masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya kehamilan normal yaitu 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari pertama haid terakhir. Pengawasan antenatal memberikan manfaat bagi ibu hamil dan ditemukannya berbagai masalah/kelainan yang menyertai kehamilan secara dini. Berdasarkan penelitian WHO di selutuh duniat erdapat kematian sebesar 500.000 jiwa pertahun saat hamil atau bersalin dan kematian bayi khususnya neonatal sebesar 10.000.000 jiwa pertahuan saat hamil atau bersalin jiwa per tahun. Di negara berkembang antara 750-100 per 100.000 kelahiran hidup dan kematian maternal sebesar 99%. Tingginya AKI di id yaitu 390 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI, 1994) tertinggi di ASEAN dan penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan infeksi, eklamsi, partus lama dan komplikasi abortus.
Mengingat pentingnya peningkatan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, tanggal 12 Oktober 2000 pemerintah telah mencanangkan gerakan nasional kehamilan aman atau making pregnancy safer (MPS) sebagai strategi pembangunan kesehatan masyarakat menuju Indonesia sehat 2010 sebagai bagian dari program safe motherhood dalam arti kata luas tujuan safe motherhood dan makin pregnancy safer sama, yaitu melindungi hak reproduksi dan hak asasi manusia dengan cara mengurangi beban kesakitan, kecacatan dan kematian yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. MPS merupakan strategi sektor kesehatan yang terfokus pada pendekatan perencanaan sistematis dan terpadu dalam melaksanakan intervensi klinis dan pelayanan kesehatan.
Pembuatan manajemen ini juga untuk menggunakan cakupan pelayanan antenatal, salah satu upaya penurunan AKI adalah dengan melakukan pelayanan antenatal yaitu dengan program AANC dengan periode 4 kali kunjungan. Jika upaya penerapan ANC ini dilakukan secara teratur, secara otomatis penurunan AKI dapat diturunkan. Penyuluhan kepada ibu hamil perlu dilakukan karena banyak ibu hamil yang tidak mengerti arti pentingnya pemeriksaan kehamilan, terutama penyuluhan tentang komplikasi sebagai akibat langsaung kehamilan yang merupakan hal yang patologis, salah satunya “Hyperemesis Gravidarum”. Hal ini merupakan gejala yang wajar dan sering didapatkan pada kehamilan trimeter I. Terjadinya pada pagi hari tapi bisa juga timbul setiap saat dan malam hari, mual dan muntah terjadi 6080% primigravida dan 40-60% multi gravida yang dapat berlangsung selama 4 bulan.
Diharapkan di Indonesia AKI menurun sebesar 75% pada tahun 2010 dari tahun 1990. di Indonesia pada tahun 2010 nanti seperti disebutkan dalam kontes pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 yaitu visinya adalah kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman dapat terwujud dan standar pelayanan dapat ditingkatkan serta dimiliki oleh setiap pelaksanaan pelayanan kesehatan.

Sabtu, 30 November 2013

Servisitis


LATAR BELAKANG


Serviks adalah penghalang penting bagi masuknya kuman-kuman kedalam genetalia internal, dalam hubungan ini seorang nulipara dalam keadaan normal kanalis servikalis bebas kuman. Pada multipara dengan ostium uteri eksternum sehingga lebih rentang terjadinya infeksi oleh berbagai kuman-kuman yang masuk dari luar ataupun oleh kuman endogen itu sendiri. Jika seviks sudah infeksi maka akan mempermudah pula terjadinya infeksi pada alat genetalia yang lebih tinggi lagi seperti uterus, tuba atau bahkan sampai ke ovarium dan karena itu fungsi genetalia sebagai alat reproduksi bisa terganggu/bahkan tidak bisa difungsikan.

Begitu juga adnexsitis, yaitu pandangan pada tuba dan ovarium secara bersama. Dimana jika itu terjadi ovarium untuk menghasilkan sel telur sebagai saluran untuk lewatnya sel telur bisa terganggu sehingga fungsi wanita untuk melanjutkan keturunan pun bisa terganggu.

PEMBAHASAN

A. Servisitis
Serviks uteri adalah penghalang penting bagi masuknya kuman-kuman kedalam genetalia internal, dalam hubungan ini seorang multipara dalam keadaan normal kanalis sevikalis bebas kuman. Pada multipara denga ostium uteri eksternum sudah lebih terbuka bebas keatas dari daerah bebas kuman ialah ostium uter internum.
Pada beberapa penyakit kelamin, seperti gonorbe, sifilis, ulkus mole, dan granuloma ingunale serta pada tuberkulosis dapat ditemukan radang seviks.

1. Definisi

Serviks adalah peradangan dari selaput lendir dari kanalis servikalis. Karena epited selaput lendir kanalis servikalis hanya terdiri dari satu lapisan sel selindris, sehingga lebih mudah terinfeksi dibanding selaput lendir vagina. (Gynekologi. FK UNPAD, 1998).

2. Etiologi

Servisitis di sebabkan oleh kuman-kuman seperti : trikomas vaginalis, kandrada dan mikoplasma atau mikroorganisme aerob dan anaerob endogen vagina seperti streptococcus, e. coli, dan stapilococus. Kuman-kuman ini menyebabkan deskuamasi pada epitel gepeng dan perubahan inflamasi komik dalam jaringan serviks yang mengalami trauma.


Dapat juga disebabkan oleh robekan serviks terutama yang menyebabkan ectropion, alat-alat atau alat kontrasepsi, tindakan intrauterine seperti diatas , dan lain-lain.

3. Gejala Klinis

 Flour hebat, biasanya kental atau perullent dan biasanya berbau.
 Sering menimbulkan arusio (erythroplaki) pada portio.
 Pada pemeriksaan inspekulo kadang-kadang dapat melihat flour yang purulent
keluar dari kanalis servikalis. Kalau partio normal tidak ada ectropion, maka harus diingat kemungkinan gonorrae.
 Sekunder dapat terjadi kolpitis dan vilvitis.
 Pada servisitis kroniks kadang dapat dilihat bintik putih dalam daerah selaput lendir yang merah karena infeksi. Bintik-bintik ini disebabkan oleh ovulanobethi dan akibat retensi kelenjar-kelenjar serviks karena saluran keluarnya tertutup oleh pengisutan dari luka serviks atau karena peradangan.
 Gejala-gejala non spesifik seperti dipareuni, nyeri punggung kemih.
 Perdarahan saat melakukan hubungan seks.


4. Klasifikasi

a. Servisitis Akuta

Infeksi yang diawali di endoserviks dan ditemukan pada gonorroe. Infeksi potobaartum, postpartum, yang disebabkan oleh streptococcus, sthapilococus, dan lain-lain. Dalam hal ini streptococcus merah bengkak dan mengeluarkan cairan mukopuralent, akan tetapi gejala-gejala pada servik baisanya tidak berapa tampak setengah-setengah gejala lain dari infeksi yang bersangkutan.
Pengobatan diberikan dalam rangka pengobatan infeksi tersebut. Penyakitnya dapat sembuh tanpa bekas atau dapat menjadi kronika.

b. Servisitis Kronika

Penyakit ini dijumpai pada sebagian wanita yang pernah melahirkan. Luka-luka kecil atau besar pada servik karena partus atau abortus memudahkan masuknya kuman-kuman kedalam endoserviks serta kelenjar-kelenjar infeksi menahun.
Beberapa gambaran patologis dapat ditemukan :

1. Serviks kelihatannya normal, hanya pada pemeriksaan mikrokopis ditemukan infiltrasi leukosit dalam stroma endoserviks. Servisitis ini meniumbulkan gejala, kecuali pengeluaran secret yang agak putih-kuning.

2. Disini ada partio uteri disekitar ostium uteri eksterum, tampak daerah kemerah-merahan yang tidak dipisahkan secara jelas dari epikel porsio di sekitarnya, secret yang dikeluarkan terdiri atas mucus bercampur nanah.

3. Sobeknya pada serviks uteri disini lebih luas dan mokosa endoserviks lebih kelihatan dari luar (ekstropion). Kukosa dalam keadaan demikian mudah terkena infeksi dari vagina. Karena radang menahun, servik bisa menjadi hipertopis dan mengeras, secret mukopurulent bertambah banyak.


5. Pemeriksaan Khusus

1. Pemeriksaan dengan speculum.

2. Sediaan hapus untuk biakan dan tes kepekaan.

3. Pap smear.

4. Biakan damedia.

5. Biopsy.


Pemeriksaan dengan speculum dimana vagina dibuka untuk dapat melihat lebih jelas servik, kemudian ambil sedikit lendir atau cairan yang ada pada mulut servik, taruk kedalam hapus karena media hapus berfungsi untuk menaruk cairan servik yang akan diperiksa/dibiakkan. Papsmeat pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya serviksitis, contoh pemeriksaan lab atau biopsy untuk dapat mengetahui lebih pasti.

6. Penatalaksanaan

1. Antibiotikan terutama kalau dapat ditemukan genecoccus dalam secret.

2. Kalau servisitis tidak spesifik dapat diobati dengan rendaman dalam A9NO3 10% dan irigasi.

3. Servisitis yang tidak mau sembuh dari tolong operatif dengan melakukan konisasi, kalau sebabnya ekstropion dapat dilakukan lastik atau amputasi.

4. Erosion dapat disembuhkan dengan obat keras seperti, A9NO3 10% atau albothyl yang menyebabkan nekrose epitel silindris dengan harapan bahwa kemudian dari ganti dengan epitel gepeng berlapis banyak.

5. Servisitis kronika pengobatannya lebih baik dilakukan dengan jalan kauterisasi radral dengan termokauter atau dengan krioterapi.



7. Terapi

* Antibiotika terutama kalau dapat ditemukan genecoccus dalam secret.

* Kalau serviks tidak spesifik dapat diobati dalam argentetas netrta menyebabkan dengan epitel slindris, dengan harapan bahwa kamudian diganti dan epitel gepeng berlapis banyak.

* Kauterisasi-radikal dengan termokauter, atau dengan krioterapi. Sesudah kauterisasi terjadi nekrosis. Jaringan yang meradang terlepas dalam kira-kira 2 minggu dan diganti tambahan oleh jaringan menahun mencapai endoserviks jauh kedalam kanalis crevikalis. Perlu dilakukan konisasi dengan menganggkat sebagian besar mukosa endocerviks. Jika sobekan dan infeksi sangat luas, maka dilakukan amputasi serviks.

DAFTAR PUSTAKA

- David Ovedoff. 1995. Kapita Kedokteran. Jakarta : Bina Pura Pustaka

- Manuaba. 1998. Ilmu Kedokteran. Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.

- http://www.askep-askeb-kita.blogspot.com/



PROGRAM MENJAMIN MUTU PELAYANAN KEBIDANAN


FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DAN KEBIDANAN

Sabtu, 21 September 2013

Askeb IV

MEKANISME LEPASNYA PLASENTA

Uji Laboratorium


Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula (karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa.

Nama Benedict merupakan nama seorang ahli kimia asal Amerika, Stanley Rossiter Benedict (17 Maret 1884-21 Desember 1936). Benedict lahir di Cincinnati dan studi di University of Cincinnati. Setahun kemudian dia pergi ke Yale University untuk mendalami Physiology dan metabolisme di Department of Physiological Chemistry.
Pada uji Benedict, pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam gugus aromatik, dan alpha hidroksi keton. Oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif dengan pereaksi benedict.

Satu liter pereaksi Benedict dapat dibuat dengan menimbang sebanyak 100 gram sodium carbonate anhydrous, 173 gram sodium citrate, dan 17.3 gram copper (II) sulphate pentahydrate, kemudian dilarutkan dengan akuadest sebanyak 1 liter.

Untuk mengetahui adanya monosakarida dan disakarida pereduksi dalam makanan, sample makanan dilarutkan dalam air, dan ditambahkan sedikit pereaksi benedict. Dipanaskan dalam waterbath selamaa 4-10 menit. Selama proses ini larutan akan berubah warna menjadi biru (tanpa adanya glukosa), hijau, kuning, orange, merah dan merah bata atau coklat (kandungan glukosa tinggi).

Sukrosa (gula pasir) tidak terdeteksi oleh pereaksi Benedict. Sukrosa mengandung dua monosakrida (fruktosa dan glukosa) yang terikat melalui ikatan glikosidic sedemikian rupa sehingga tidak mengandung gugus aldehid bebas dan alpha hidroksi keton. Sukrosa juga tidak bersifat pereduksi.

Uji Benedict dapat dilakukan pada urine untuk mengetahui kandungan glukosa. Urine yang mengandung glukosa dapat menjadi tanda adanya penyakit diabetes. Sekali urine diketahui mengandung gula pereduksi, test lebih jauh mesti dilakukan untuk memastikan jenis gula pereduksi apa yang terdapat dalam urine. Hanya glukosa yang mengindikasikan penyakit diabetes.


KTI Faktor faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan program Jampersal

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES TANJUNGKARANG
PROGRAM STUDI KEBIDANAN METRO

Jumat, 20 September 2013

Album

 Latihan Dasar Kepemimpinan HMPS Kebidanan Poltekkes 2011
Bandar Lampung 2012

 PKMD Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang 2012
Desa Bawang, Punduh Pedada, Pesawaran

Seminar Kesehatan Sari Husada 2013
Emersia Hotel, Bandar Lampung

PKK III Ruang Kebidanan RSU A Yani Metro 2012

Belajar Up Implan di PKM Margototo 2012
bersama Okta Rostalia, Eka Yustina dan Bidan Titin


Penyuluhan Kader Posyandu Desa Jayaasri
Lampung Timur 2012

Mahasiswa Prodi Kebidanan Metro 2009 
Kenangan sebelum beranjak PKK 3

Asuhan Nifas

Asuhan Nifas

Asuhan Kebidanan

TUGAS ASKEB V
PERDARAHAN ANTEPARTUM
RUPTUR SINUS MARGINALIS




DISUSUN OLEH :
OKTA ROSTALIA
09242026





POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN TANJUNG KARANG
PRODI KEBIDANAN METRO
2011














Perdarahan Antepartum

Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada perdarahan kehamilan sebelum 28 minggu (Mochtar, R, 1998).

Perdarahan antepartum dapat disebabkan oleh plasenta previa, solusio plasenta, ruptura sinus marginalis, atau vasa previa. Yang paling banyak menurut data RSCM jakarta tahun 1971-1975 adalah solusio plasenta dan plasenta previa. Diagnosa secara tepat sangat membantu menyelamatkan nyawa ibu dan janin.

Ruptur Sinus Marginalis

Darah ibu yang berada diruang intraviller dari spiral alteries yang berada di desidua basalis. Pada systole darah disemprotkan dengan tekanan 70-80mmhg, seperti air mancur kedalam ruangan intraviller sampai mencapai chorlonic plate, pangkal dari kotiledon- kotiledon janin.

Darah tersebut membasahi semua vili korialis dan kembali terdapat vena yang luas untuk menampung darah kembali. Pada pinggir plasenta dibeberapa tempat terdapat pula suatu ruangan vena yang luas untuk menampung darah yang berasal dari ruang intraler diatas. Ruangan ini disebut sinus marginalis.

Selama perkembangan amnion dan korion melipat kebelakang disekeliling tepi-tepi plasenta. Dengan demikian korion ini masih berkesinambungan dengan tepi plasenta tapi pelekatannya melipat kebelakang pada permukaan foetal.

Pada permukaan foetal dekat pada pinggir plasenta terdapat cincin putih. Cincin putih ini menandakan pinggir plasenta, sedangkan jaringan disebelah luarnya terdiri dari vili yang timbul ke samping, dibawah desidua. Sebagai akibatnya pinggir plasenta mudah terlepas dari dinding uterus dan perdarahan ini menyebabkan perdarahan antepartum. Hal ini tidak dapat diketahui sebelum plasenta diperiksa pada akhir kehamilan.

 Sehingga rupture sinus marginalis merupakan robekan pada pinggir plasenta ditempat- tempat tertentu disuatu ruangan vena yang luas/ lebar untuk menampung darah.

 Pecahnya sinus marginalis merupakan perdarahan yang sebagian besar baru diketahui setelah persalinan. Biasanya tanpa rasa sakit. Perdarahan terjadi bila ketuban pecah oleh karma itu, bila pembukaan telah lengkap maka bahaya untuk janin tidak terlalu besar, tapi dapat membahayakan bagi ibu.















Daftar Pustaka

Varney, Helen. 1997. Varney’s Midwifey. Massachussets : Jones and

bartlett Publishers

Cunningham, F Gary at all. 2001. William obstetric 21th edition.

United States of America : the mcGraw hill companies

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC


 Syaifudin, 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta, YBPSP (BU 1)