KOMPLIKASI DAN PENYAKIT DALAM MASA NIFAS SERTA
PENANGANANNYA
(SERVIKSITIS,
ENDOMETRISIS, ENDOMETRIOSIS, MYOMETRITIS)
PENDAHULUAN
Pengertian
Nifas
a. Nifas atau puerperium adalah periode
waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak
hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar enam minggu (Fairer, Helen, 2001:225)
b. Masa nifas (puerperium) dimulai setelah
kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti
keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira enam minggu
(Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Ne’bnatal, 2001:122)
c. Masa nifas atau masa puerperium mulai
setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira enam minggu
(Wiknjosastro, Hanifa, 1999: 237)
d. Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih
kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali
seperti pra-hamil, lama masa nifas ini yaitu 6-8 minggu (Mochtar, Rustam,
1998:115)
e. Infeksi nifas adalah infeksi pada dan
melalui traktus genetalis setelah persalinan. Suhu 38 °C atau lebih yang
terjadi antara hari ke 2-10 postpartum dan diukur peroral sedikitnya empat kali
sehari
Penyebab Dan Cara Terjadinya Infeksi
a. Penyebab infeksi nifas
Bermacam-macam jalan kuman masuk ke dalam
alat kandungan seperti eksogen (kuman datang dari luar), autogen (kuman masuk
dari tempat lain dalam tubuh) dan endogen (dari jalan lahir sendiri). Penyebab
yang terbanyak dan lebih dari 50% adalah streptococcus anaerob yang sebenarnya
tidak patogen sebagai penghuni normal jalan lahir. Kuinan-kuman yang sering
menyebabkan infeksi antara lain adalah :
1) Streptococcus haemoliticus anaerobic
Masuknya secara eksogen dan menyebabkan
infeksi berat. Infeksi ini biasanya eksogen (ditularkan dari penderita lain,
alat-alat yang tidak suci hama, tangan penolong, infeksi tenggorokan orang
lain).
2) Staphylococcus aureus
Masuknya secara eksogn, infeksinya
sedang, banyak di temukan sebagai penyebab infeksi di rumah sakit dan dalam
tenggorokan orang-orang yang nampaknya sehat. Kuman ini biasanya menyebabkan
infeksi terbatas, walaupun kadang-kadang menjadi sebab infeksi umum.
3) Escherichia Coli
Sering berasal dari kandung kemih dan
rektum, menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva, dan endometriurn.
Kuman ini merupakan sebab penting dari infeksi traktus urinarius.
4) Clostridium Welchii
Kuman ini bersifat anaerob, jarang
ditemukan akan tetapi sangat berbahaya. Infeksi ini lebih sering terjadi pada
abortus kriminalis dan partus yang ditolong oleh dukun dari luar rumah sakit.
b. Cara terjadinya infeksi nifas
Infeksi dapat terjadi sebagai berikut:
1) Tangan pemeriksa atau penolong yang
tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang
sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Kemungkinan lain ialah bahwa sarung
tangan atau alat-alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya
bebas dari kuman-kuman.
2) Droplet infection. Sarung tangan atau
alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan
dokter atau petugas kesehatan lainnya. Oleh karena itu, hidung dan mulut
petugas yang bekerja di kamar bersalin harus ditutup dengan masker dan
penderita infeksi saluran pernafasan dilarang memasuki kamar bersalin.
3) Dalam rumah sakit terlalu banyak
kuman-kuman patogen, berasal dari penderita-penderita dengan berbagai jenis infeksi.
Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh aliran udara kemana-mana termasuk kain-kain,
alat-alat yang suci hama, dan yang digunakan untuk merawat wanita dalam
persalinan atau pada waktu nifas.
4) Koitus pada akhir kehamilan tidak
merupakan sebab infeksi penting, kecuali apabila mengakibatkan pecahnya
ketuban.
FAKTOR
PREDISPOSISI
a. Semua keadaan yang menurunkan daya tahan
penderita seperti perdarahan
banyak, diabetes, preeklamsi, malnutrisi, anemia. Kelelahan juga infeksi
lain yaitu pneumonia, penyakit jantung dan sebagainya.
banyak, diabetes, preeklamsi, malnutrisi, anemia. Kelelahan juga infeksi
lain yaitu pneumonia, penyakit jantung dan sebagainya.
b. Proses persalinan bermasalah seperti
partus lama/macet terutama dengan
ketuban pecah lama, korioamnionitis, persalinan traumatik, kurang
baiknya proses pencegahan infeksi dan manipulasi yang berlebihan.
ketuban pecah lama, korioamnionitis, persalinan traumatik, kurang
baiknya proses pencegahan infeksi dan manipulasi yang berlebihan.
c. Tindakan obstetrik operatif baik pervaginam
maupun perabdominam.
d. Tertinggalnya sisa plasenta, selaput
ketuban dan bekuan darah dalam
rongga rahim.
rongga rahim.
e. Episiotomi atau laserasi.
A. SERVIKSITIS
Serviks
uteri adalah penghalang penting bagi masuknya kuman-kuman kedalam genitalia
interna, dalam hubungan ini seorang nullipara dalam keadaan normal kanalis
servikalis bebas kuman. Pada multipara dengan ostium uteri eksternum sudah
lebih terbuka, batas keatas dari daerah bebas kuman ialah ostium uteri
internum.
Radang pada
serviks uteri bisa terdapt pada portio uteri diluar ostium uteri eksternum dan
atau pada endoserviks uteri.
Pada
beberapa penyakit kelamin, seperti gonoroe, sifilis, ulkus mole, dan granuloma
inguinale serta pada tuberculosis dapat ditemukan radang pada serviks.
1.
DEFINISI
Serviksitis adalah peradangan dari selaput
lendir dari kanalis servikalis. karena epitel selaput lendir kanalis servikalis
hanya terdiri dari satu lapisan sel selindris sehingga lebih mudah terinfeksi
dibanding selaput lendir vagina. (gynekologi. FK UNPAD, 1998). Juga merupakan:
·
Infeksi
non spesifik dari serviks
·
Erosi
ringan (permukaan licin), erosi kapiler (permukaan kasar), erosi folikuler
(kistik)
·
Biasanya
terjadi pada serviks bagian posterior
Infeksi yang diawali di
endoserviks dan ditemukan pada gonorea dan infeksi post partum yang disebabkan
oleh streptokokus, stapilokokus dan lain-lain.
2.
ETIOLOGI
Servisitis disebabkan oleh
kuman-kuman seperti : trikomonas vaginalis, kandida dan mikoplasma atau
mikroorganisme aerob dan anaerob endogen vagina seperti streptococcus,
enterococus, e.coli, dan stapilococus . kuman-kuman ini menyebabkan deskuamasi
pada epitel gepeng dan perubahan inflamasi kromik dalam jaringan serviks yang
mengalami trauma.
Dapat juga disebabkan oleh
robekan serviks terutama yang menyebabkan ectropion, alat-alat atau alat
kontrasepsi, tindakan intrauterine seprti dilatasi, dan lain-lain.
3.
GEJALA
KLINIS
·
Flour
hebat, biasanya kental atau purulent dan biasanya berbau
·
Sering
menimbulkan erusio ( erythroplaki ) pada portio yang tampak seperti daerah
merah menyala.
·
Pada
pemeriksaan inspekulo kadang-kadang dapat dilihat flour yang purulent keluar
dari kanalis servikalis. Kalau portio normal tidak ada ectropion, maka harus
diingat kemungkinan gonorroe
·
Sekunder
dapat terjadi kolpitis dan vulvitis
·
Pada
servisitis kroniks kadang dapat dilihat bintik putih dalam daerah selaput
lendir yang merah karena infeksi. Bintik-bintik ini disebabkan oleh
ovulonobothi dan akibat retensi kelenjer-kelenjer serviks karena saluran
keluarnya tertutup oleh pengisutan dari luka serviks atau karena peradangan.
·
Gejala-gejala
non spesifik seperti dispareuni, nyeri punggung, dan gangguan kemih
·
Perdarahan
saat melakukan hubungan seks
4.
KLASIFIKASI
a.
Servisitis
Akuta
Infeksi yang
diawali di endoserviks dan ditemukan pada gonorroe, infeksi postabortum,
postpartum, yang disebakan oleh streptococcus, sthapilococus, dan lain-lain.
Dalam hal ini streptococcus merah dan membengkak dan mengeluarkan cairan
mukopurulent, akan tetapi gejala-gejala pada serviks biasanya tidak seberapa
tampak ditengah-tengah gejala lain dari infeksi yang bersangkutan.
Pengobatan
diberikan dalam rangka pengobatan infeksi tersebut. Penyakitnya dapat sembuh
tanpa bekas atau dapat menjadi kronika.
b.
Servisitis
Kronika
Penyakit ini
dijumpai pada sebagisn wanita yang pernah melahirkan. Luka-luka kecil atau
besar pada servik karena partus atau abortus memudahkan masuknya kuman-kuman
kedalam endoserviks serta keleenjer-kelenjernya sehingga menyebabkan infeksi
menahun.
Beberapa gambaran patologis dapat ditemukan :
1)
Serviks
kelihatan normal, hanya pada pemeriksaan mikroskopis ditemukan infiltrasi
leukosit dalam stroma endoserviks. Servicitis ini menimbulkan gejala, kecuali
pengeluaran secret yang agak putih-kuning.
2)
Disini
ada portio uteri disekitar ostium uteri eksternum, tampak daerah
kemerah-merahan yang tidak dipisahkan secara jelas dari epitel porsio
disekitarnya, secret yang dikeluarkan terdiri atas mucus bercampur nanah.
3)
Sobeknya
pada serviks uteri disini lebih luas dan mukosa endoserviks lebih kelihatan
dari luar (ekstropion). Mukosa dalam keadaan demikian mudah terkena infeksi
dari vagina. Karena radang menahun, serviks bisa menjadi hipertropis dan
mengeras, secret mukopurulent bertambah banyak.
5.
DIAGNOSA
BANDING
·
Karsinoma
·
Lesi
tuberculosis
·
Herpes
progenitalis
6.
PEMERIKSAAN
KHUSUS:
a.
Pemeriksaan
dengan speculum
b.
Sediaan
hapus untuk biakan dan tes kepekaan
c.
Pap
smear
d.
Biakan
damedia
e.
Biopsy
7.
PENATALAKSANAAN
a.
Antibiotika
terutama kalau dapat ditemukan gonococcus dalam secret
b.
Kalau
cervicitis tidak spesifik dapat diobati dengan rendaman dalam AgNO3 10
% dan irigasi.
c.
Cervicis
yang tak mau sembuh ditolong operatif dengan melakukan konisasi, kalau sebabnya
ekstropion dapat dilakukan lastik atau amputasi.
d.
Erosion
dapat disembuhkan dengan obat keras seperti, AgNO3 10 % atau
Albothyl yang menyebabkan nekrose epitel silindris dengan harapan bahwa
kemudian diganti dengan epitel gepeng berlapis banyak
e.
Servisitis
kronika pengobatannya lebih baik dilakukan dengan jalan kauterisasi-radial
dengan termokauter atau dengan krioterapi.
8.
PROGNOSIS
·
Biasanya
baik
·
Dapat
kambuh
B. ENDOMETRITIS
1. Definisi
Endometritis adalah peradangan yang terjadi pada endometrium, yaitu lapisan
sebelah dalam pada dinding rahim, yang terjadi akibat infeksi Terdapat berbagai tipe endometritis, yaitu endometritis post
partum (radang dinding rahim sesudah melahirkan), endometritis sinsitial (peradangan dinding rahim akibat tumor
jinak disertai sel sintitial dan trofoblas yang banyak),
serta endometritis tuberkulosa (peradangan pada dinding rahim endometrium dan tuba fallopi, biasanya
akibat Mycobacterium
tuberculosis.
Endometritis adalah infeksi atau desidua endometrium, dengan ekstensi ke
dalam miometrium dan jaringan parametrial. Endometritis endometritis dibagi
menjadi obstetri dan nonobstetric. Ini adalah penyebab paling umum dari demam
selama periode postpartum. penyakit radang panggul (PID) adalah pendahulu umum
di populasi nonobstetric
2.
Penyebab
Mikroorganisme yang
menyebabkan endometritis diantaranya Campylobacter foetus, Brucella sp., Vibrio sp. dan Trichomonas foetus.
Endometritis juga dapat diakibatkan oleh bakteri oportunistik spesifik seperti Corynebacteriump
yogenes, Eschericia coli dan Fusobacterium
necrophorum.
Organisme penyebab biasanya
mencapai vagina pada saat perkawinan, kelahiran,
sesudah melahirkan atau melalui sirkulasi darah.
Terdapat banyak faktor yang berkaitan dengan endometritis, yaitu retensio
sekundinarum,
distokia, faktor penanganan, dansiklus birahi yang tertunda. Selain itu, endometritis biasa
terjadi setelah kejadian aborsi, kelahiran kembar,
serta kerusakan jalan kelahiran sesudah melahirkan. Endometritis dapat terjadi sebagai kelanjutan kasus distokia atau retensi
plasenta yang mengakibatkan involusi uterus pada periode sesudah melahirkan
menurun. Endometritis juga sering berkaitan dengan adanyaKorpus Luteum Persisten (CLP).
·
Endometritis
adalah penyakit yang melibatkan polymicrobial, rata-rata, 2-3 organisme.
·
Dalam
banyak kasus, itu muncul dari infeksi naik dari organisme yang ditemukan dalam
flora normal vagina adat.
·
Umumnya
organisme terisolasi termasuk urealyticum Ureaplasma, Peptostreptococcus,
vaginalis Gardnerella, bivius Bacteroides, dan kelompok B Streptococcus.
·
Chlamydia
telah dikaitkan dengan endometritis postpartum akhir-onset.
·
Enterococcus
diidentifikasi di hingga 25% dari perempuan yang telah menerima profilaksis
sefalosporin.
·
Rute
pengiriman adalah faktor yang paling penting dalam pengembangan endometritis
postpartum. Penelitian yang lebih baru mendukung administrasi antibiotik
profilaksis pra operasi, yang dikaitkan dengan penurunan 53% di endometritis
tanpa dampak apapun pada sepsis neonatorum yang dicurigai atau terbukti atau
NICU admission.
·
Mayor
faktor risiko termasuk kelahiran sesar, pecah membran lama, tenaga kerja yang
panjang dengan beberapa pemeriksaan vagina, ekstrem umur pasien, dan status
sosial ekonomi rendah.
·
Minor
faktor yang berkontribusi termasuk ibu anemia, janin pemantauan internal yang
berkepanjangan, operasi lama, dan anestesi umum.
·
Vaginosis
bakteri telah dikaitkan dengan endometritis setelah melahirkan sesar dan dengan
PID setelah trimester pertama aborsi elektif.
3. Patogenesis
Rahim merupakan organ yang steril sedangkan di vagina terdapat banyak mikroorganisme oportunistik. Mikroorganisme darivagina ini dapat secara asenden masuk ke rahim terutama pada saat perkawinan atau
melahirkan. Bila jumlah mikroorganisme terlalu banyak dan kondisi rahim mengalami gangguan maka dapat terjadi
endometritis [5].
Kejadian endometritis kemungkinan besar terjadi pada saat kawin suntik atau
penanganan kelahiran yang kurang higienis, sehingga banyak bakteri yang masuk,
seperti bakteri non spesifik (E. coli, Staphilylococcus, Streptococcus dan Salmonella), maupun
bakteri spesifik (Brucella sp,Vibrio foetus dan Trichomonas
foetus).
4. Gejala Klinis
Gejala klinis endometritis yaitu lendir vagina yang berwarna keputihan sampai
kekuningan yang berlebihan, dan rahim membesar. Penderita dapat nampak
sehat, walaupun dengan lendir vagina yang kekuningan dan dalam rahimnya
tertimbun cairan. Pengaruh endometritis terhadap kesuburan dalam jangka pendek
adalah menurunkan kesuburan sedangkan dalam jangka panjang endometritis
menyebabkan gangguan reproduksi karena terjadi perubahan saluran reproduksi.
5. Diagnosis
Endometritis dapat terjadi secara klinis dan subklinis. Diagnosis
endometritis dapat didasarkan pada riwayat kesehatan, pemeriksaan
rektal, pemeriksaan vaginal dan biopsi. Keluhan kasus
endometritis biasanya beberapa kali dikawinkan tetapi tidak bunting, siklus birahi diperpanjang kecuali pada endometritis
yang sangat ringan. Pemeriksaan vaginal dapat dilakukan dengan menggunakan vaginoskop dengan melihat adanya lendir, lubang
leher rahim (serviks) agak terbuka dan kemerahan
di daerah vagina dan leher rahim. Pada palpasi per
rektal akan teraba dinding rahim agak kaku dan di dalam rahim ada cairan tetapi
tidak dirasakan sebagai fluktuasi (tergantung derajat infeksi).
6. Terapi
Terapi
endometritis, pada hewan, dapat dilakukan melalui pemberian antibiotik sistemik, irigasi rahim, pemberian hormon estrogen untuk
menginduksi respon rahim, dan injeksi prostaglandin untuk menginduksi uterus. Pengobatan yang direkomendasikan
untuk endometritis yang agak berat adalah memperbaiki vaskularisasi dengan
mengirigasi uterusmempergunakan antiseptik ringan
seperti lugol dengan
konsentrasi yang rendah. Irigasi diulangi beberapa kali dengan interval 2-3
hari. Antibiotik diberikan secara intra uterin
dan intra muskular. Leleran dapat dikeluarkan dengan menyuntikkan preparat estrogen. Untuk endometritis ringan
cukup diberikan antibiotika intra uterina.
7. Patofisiologi
Endometritis adalah infeksi pada endometrium atau desidua, dengan ekstensi ke dalam miometrium dan jaringan parametrial. Endometritis biasanya terjadi akibat infeksi naik dari saluran kelamin bawah. Dari perspektif patologis, endometritis dapat diklasifikasikan sebagai akut vs kronis. Endometritis akut ditandai dengan kehadiran neutrofil dalam kelenjar endometrium. Endometritis kronis ditandai dengan adanya sel plasma dan limfosit dalam stroma endometrium.
Dalam populasi nonobstetric, PID dan prosedur ginekologi invasif adalah prekursor paling umum untuk endometritis akut. Dalam populasi obstetri, infeksi pascapersalinan adalah pendahulu yang paling umum. Endometritis kronis pada populasi obstetri biasanya terkait dengan produk konsepsi ditahan setelah melahirkan atau aborsi elektif. Dalam populasi nonobstetric, endometritis kronis telah terlihat dengan infeksi, seperti klamidia, tuberkulosis, dan bakteri vaginosis, dan adanya suatu alat kontrasepsi.
Endometritis adalah infeksi pada endometrium atau desidua, dengan ekstensi ke dalam miometrium dan jaringan parametrial. Endometritis biasanya terjadi akibat infeksi naik dari saluran kelamin bawah. Dari perspektif patologis, endometritis dapat diklasifikasikan sebagai akut vs kronis. Endometritis akut ditandai dengan kehadiran neutrofil dalam kelenjar endometrium. Endometritis kronis ditandai dengan adanya sel plasma dan limfosit dalam stroma endometrium.
Dalam populasi nonobstetric, PID dan prosedur ginekologi invasif adalah prekursor paling umum untuk endometritis akut. Dalam populasi obstetri, infeksi pascapersalinan adalah pendahulu yang paling umum. Endometritis kronis pada populasi obstetri biasanya terkait dengan produk konsepsi ditahan setelah melahirkan atau aborsi elektif. Dalam populasi nonobstetric, endometritis kronis telah terlihat dengan infeksi, seperti klamidia, tuberkulosis, dan bakteri vaginosis, dan adanya suatu alat kontrasepsi.
C. ENDOMETRIOSIS
1.
DEFINISI
Endometriosis adalah suatu penyakit dimana bercak-bercak jaringan endometrium tumbuh di luar rahim, padahal dalam keadaan normal endometrium hanya ditemukan di dalam lapisan rahim. Biasanya endometriosis terbatas pada lapisan rongga perut atau permukaan organ perut. Endometrium yang salah tempat ini biasanya melekat pada ovarium (indung telur) dan ligamen penyokong rahim. Endometrium juga bisa melekat pada lapisan luar usus halus dan usus besar, ureter (saluran yang menghubungan ginjal dengan kandung kemih), kandung kemih, vagina, jaringan parut di dalam perut atau lapisan rongga dada. Kadang jaringan endometrium tumbuh di dalam paru-paru.
Endometriosis bisa diturunkan dan lebih sering ditemukan pada keturunan pertama (ibu, anak perempuan, saudara perempuan). Faktor lain yang meningkatkan resiko terjadinya endometriosis adalah memiliki rahim yang abnormal, melahirkan pertama kali pada usia diatas 30 tahun dan kulit putih.
Endometriosis diperkirakan terjadi pada 10-15% wanita subur yang berusia 25-44 tahun, 25-50% wanita mandul dan bisa juga terjadi pada usia remaja.
Endometriosis yang berat bisa menyebabkan kemandulan karena menghalangi jalannya sel telur dari ovarium ke rahim.
Endometriosis adalah suatu penyakit dimana bercak-bercak jaringan endometrium tumbuh di luar rahim, padahal dalam keadaan normal endometrium hanya ditemukan di dalam lapisan rahim. Biasanya endometriosis terbatas pada lapisan rongga perut atau permukaan organ perut. Endometrium yang salah tempat ini biasanya melekat pada ovarium (indung telur) dan ligamen penyokong rahim. Endometrium juga bisa melekat pada lapisan luar usus halus dan usus besar, ureter (saluran yang menghubungan ginjal dengan kandung kemih), kandung kemih, vagina, jaringan parut di dalam perut atau lapisan rongga dada. Kadang jaringan endometrium tumbuh di dalam paru-paru.
Endometriosis bisa diturunkan dan lebih sering ditemukan pada keturunan pertama (ibu, anak perempuan, saudara perempuan). Faktor lain yang meningkatkan resiko terjadinya endometriosis adalah memiliki rahim yang abnormal, melahirkan pertama kali pada usia diatas 30 tahun dan kulit putih.
Endometriosis diperkirakan terjadi pada 10-15% wanita subur yang berusia 25-44 tahun, 25-50% wanita mandul dan bisa juga terjadi pada usia remaja.
Endometriosis yang berat bisa menyebabkan kemandulan karena menghalangi jalannya sel telur dari ovarium ke rahim.
2.
PENYEBAB
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi beberapa ahli mengemukakan teori berikut:
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi beberapa ahli mengemukakan teori berikut:
a.
Teori
menstruasi retrograd (menstruasi yang bergerak mundur)
Sel-sel endometrium yang dilepaskan pada saat menstruasi bergerak mundur ke tuba falopii lalu masuk ke dalam panggul atau perut dan tumbuh di dalam rongga panggul/perut.
Sel-sel endometrium yang dilepaskan pada saat menstruasi bergerak mundur ke tuba falopii lalu masuk ke dalam panggul atau perut dan tumbuh di dalam rongga panggul/perut.
b.
Teori
sistem kekebalan
Kelainan sistem kekebalan menyebabkan jaringan menstruasi tumbuh di daerah selain rahim.
Kelainan sistem kekebalan menyebabkan jaringan menstruasi tumbuh di daerah selain rahim.
c.
Teori
genetik Keluarga tertentu memiliki faktor tertentu yang menyebabkan
kepekaan yang tinggi terhadap endometriosis.
Setiap bulan
ovarium menghasilkan hormon yang merangsang sel-sel pada lapisan rahim untuk
membengkak dan menebal (sebagai persiapan terhadap kemungkinan terjadinya
kehamilan). Endometriosis juga memberikan respon yang sama terhadap sinyal ini,
tetapi mereka tidak mampu memisahkan dirinya dari jaringan dan terlepas selama
menstruasi. Kadang terjadi perdarahan ringan tetapi akan segera membaik dan
kembali dirangsang pada siklus menstruasi berikutnya.
Proses yang berlangsung terus menerus ini menyebabkan pembentukan jaringan parut dan perlengketan di dalam tuba dan ovarium, serta di sekitar fimbrie tuba. Perlengketan ini bisa menyebabkan pelepasan sel telur dari ovarium ke dalam tuba falopii terganggu atau tidak terlaksana. Selain itu, perlengketan juga bisa menyebabkan terhalangnya perjalanan sel telur yang telah dibuahi menuju ke rahim.
Resiko tinggi terjadinya endometriosis ditemukan pada:
Proses yang berlangsung terus menerus ini menyebabkan pembentukan jaringan parut dan perlengketan di dalam tuba dan ovarium, serta di sekitar fimbrie tuba. Perlengketan ini bisa menyebabkan pelepasan sel telur dari ovarium ke dalam tuba falopii terganggu atau tidak terlaksana. Selain itu, perlengketan juga bisa menyebabkan terhalangnya perjalanan sel telur yang telah dibuahi menuju ke rahim.
Resiko tinggi terjadinya endometriosis ditemukan pada:
·
Wanita
yang ibu atau saudara perempuannya menderita endometriosis
·
Siklus
menstuasi 27 hari atau kurang
·
Menarke (menstruasi yang pertama) terjadi lebih
awal
·
Menstruasi
berlangsung selama 7 hari atau lebih
·
Orgasme ketika menstruasi.
3.
GEJALA
Endometriosis bisa menyebabkan:
Endometriosis bisa menyebabkan:
·
Nyeri
di perut bagian bawah dan di daerah panggul
·
Menstruasi
yang tidak teratur (misalnya spotting sebelum menstruasi)
·
Kemandulan
·
Dispareunia (nyeri ketika melakukan hubungan
seksual).
Jaringan
endometrium yang melekat pada usus besar atau kandung kemih bisa menyebabkan
pembengkakan perut, nyeri ketika buang air besar, perdarahan melalui rektum
selama menstruasi atau nyeri perut bagian bawah ketika berkemih.
Jaringan endometrium yang melekat pada ovarium atau struktur di sekitar ovarium bisa membentuk massa yang terisi darah (endometrioma).
Kadang endometrioma pecah dan menyebabkan nyeri perut tajam yang timbul secara tiba-tiba. Kadang tidak ditemukan gejala sama sekali.
Jaringan endometrium yang melekat pada ovarium atau struktur di sekitar ovarium bisa membentuk massa yang terisi darah (endometrioma).
Kadang endometrioma pecah dan menyebabkan nyeri perut tajam yang timbul secara tiba-tiba. Kadang tidak ditemukan gejala sama sekali.
4. DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Pada pemeriksaan panggul akan teraba adanya benjolan lunak yang seringkali ditemukan di dinding belakang vagina atau di daerah ovarium.
Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Pada pemeriksaan panggul akan teraba adanya benjolan lunak yang seringkali ditemukan di dinding belakang vagina atau di daerah ovarium.
Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:
·
Laparoskopi
·
Biopsi endometrium
·
USG
rahim
·
Barium
enema
·
CT scan
atau MRI perut. PENGOBATAN
Pengobatan
tergantung kepada gejala, rencana kehamilan, usia penderita dan beratnya
penyakit.
Obat-obatan yang dapat menekan aktivitas ovarium dan memperlambat pertumbuhan jaringan endometrium adalah pil KB kombinasi, progestin, danazole dan agonis GnRH.
Agonis GnRH adalah zat yang pada mulanya merangsang pelepasan hormon gonadotropin dari kelenjar hipofisa, tetapis elelah diberikan lebih dari beberapa minggu akan menekan pelepasan gonadotropin. .
Pada endometriosis sedang atau berat mungkin perlu dilakukan pembedahan. Endometriosis diangkat sebanyak mungkin, yang seringkali dilakukan pada prosedur laparoskopi.
Pembedahan biasanya dilakukan pada kasus berikut:
Obat-obatan yang dapat menekan aktivitas ovarium dan memperlambat pertumbuhan jaringan endometrium adalah pil KB kombinasi, progestin, danazole dan agonis GnRH.
Agonis GnRH adalah zat yang pada mulanya merangsang pelepasan hormon gonadotropin dari kelenjar hipofisa, tetapis elelah diberikan lebih dari beberapa minggu akan menekan pelepasan gonadotropin. .
Pada endometriosis sedang atau berat mungkin perlu dilakukan pembedahan. Endometriosis diangkat sebanyak mungkin, yang seringkali dilakukan pada prosedur laparoskopi.
Pembedahan biasanya dilakukan pada kasus berikut:
·
Bercak
jaringan endometrium memiliki garis tengah yang lebih besar dari 3,8-5 cm
·
Perlengketan
yang berarti di perut bagian bawah atau panggul
·
Jaringan
endometrium menyumbat salah satu atau kedua tuba
·
Jaringan
endometrium menyebabkan nyeri perut atau panggul yang sangat hebat, yang tidak
dapat diatasi dengan obat-obatan.
Untuk
membuang jaringan endometrium kadang digunakan elektrokauter atau sinar laser.
Tetapi pembedahan hanya merupakan tindakan sementara, karena endometriosis sering berulang.
Ovarektomi (pengangkatan ovarium) dan histerektomi (pengangkatan rahim) hanya dilakukan jika nyeri perut atau panggul tidak dapat dihilangkan dengan obat-obatan dan penderita tidak ada rencana untuk hamil lagi.
Tetapi pembedahan hanya merupakan tindakan sementara, karena endometriosis sering berulang.
Ovarektomi (pengangkatan ovarium) dan histerektomi (pengangkatan rahim) hanya dilakukan jika nyeri perut atau panggul tidak dapat dihilangkan dengan obat-obatan dan penderita tidak ada rencana untuk hamil lagi.
Setelah
pembedahan, diberikan terapi sulih estrogen. Terapi bisa dimulai segera
setelah pembedahan atau jika jaringan endometrium yang tersisa masih banyak,
maka terapi baru dilakukan 4-6 bulan setelah pembedahan.
Pilihan pengobatan untuk endometriosis:
Pilihan pengobatan untuk endometriosis:
a. Obat-obatan yang menekan aktivitas
ovarium dan memperlambat pertumbuhan jaringan endometrium
b. Pembedahan untuk membuang sebanyak
mungkin endometriosis
c. Kombinasi obat-obatan dan pembedahan
d. Histerektomi, seringkali disertai dengan
pengangkatan tuba falopii dan ovarium.
Obat-obatan
yang biasa digunakan untuk mengobati endometriosis
Obat
|
Efek samping
|
Pil KB kombinasi estrogen-progestin
|
Pembengkakan perut, nyeri payudara, peningkatan
nafsu makan, pembengkakan pergelangan kaki, mual, perdarahan diantara 2
siklus menstruasi, trombosis vena dalam
|
Progestin
|
Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi, perubahan
suasana hati, depresi, vaginitis atrofika
|
Danazole
|
Penambahan berat badan, suara lebih berat,
pertumbuhan rambut, hot flashes, vagina kering, pembengkakan pergelangan
kaki, kram otot, perdarahan diantara 2 siklus, payudara mengecil, perubahan
suasana hati, kelainan fungsi hati, sindroma terowongan karpal
|
Agonis GnRH
|
Hot flashes, vagina kering, pengeroposan tulang,
perubahan suasana hati
|
D.
MYOMETRITIS
1. Pengertian
a) Myometritis adalah radang myometrium (
kamus Dorland ).
b) Miometrium adalah tunika muskularis
uteri. ( kamus Dorland ).
c) Metritis atau miometritis adalah radang
miometrium.
2. Gejala
·
Demam
·
Uterus
nyeri tekan
·
Perdarahan
vaginal
·
Nyeri
perut bawah Lochia berbau, purulen
Metritis akuta
Metritis Akuta biasanya terdapat pada
abortus septic atau infeksi postpartum. Penyakit ini tidak berdiri sendiri,
akan tetapi merupakan bagian dari infeksi yang lebih luas yaitu merupakan
lanjutan dari endometritis. Kerokan pada wanita dengan endometrium yang
meradang dapat menimbulkan metritis akut.
Pada penyakit ini miometrium menunjukkan reaksi radang berupa pembengkakan dan infiltrasi sel-sel radang. Perluasan dapat terjadi lewat jalan limfe atau lewat trombofeblitis dan kadang-kadang dapat terjadi abses.
Pada penyakit ini miometrium menunjukkan reaksi radang berupa pembengkakan dan infiltrasi sel-sel radang. Perluasan dapat terjadi lewat jalan limfe atau lewat trombofeblitis dan kadang-kadang dapat terjadi abses.
Metritis kronik
Metritis Kronika adalah diagnosa yang
dahulu banyak dibuat atas dasar menometroragia dengan uterus lebih besar dari
biasa, sakit pinggang, dan leukore. Akan tetapi pembesaran uterus pada
multipara umumnya disebabkan oleh penambahan jaringan ikat akibat kehamilan,
sedang gejala-gejala yang lain mungkin mempunyai sebab lain.
3.
Diagnosa dan Terapi
Diagnosa hanya dapat dibuat secara patolog anatomis.
Terapi miometritis :
a. Antibiotika spektrum luas
b. Ampisilin 2 g iv / 6 jam
c. Gentamisin 5 mg kgbb
d. Metronidasol 500 mg iv / 8 jam
e. Profilaksi antitetanus
f.
Evakuasi
sisa hasil konsepsi
g. Pus รจ drainase
Manajemen
·
Antibiotik
kombinasi
·
Transfusi
jika diperlukan
DAFTAR
PUSTAKA
-depan.jpg)
terimakasih buat artikelnya... sangat bermanfaat sob...
BalasHapushttp://cv-pengobatan.com/pengobatan-alami-radang-panggul/